Jumat, 19 Februari 2010 | 22:14 WIB
TRIBUN, JAKARTA - Ada hal sederhana yang dapat Anda lakukan di kantor guna mendukung mewujudkan green office.
Mau ikut berpatisipasi, namun masih bingung harus mulai dari mana? Sebagai pemula, tidak ada salahnya Anda mengikuti hal sederhana yang dilakukan pegawai lembaga internasional di bawah ini.
British Council Institusi ini mulai menjalankan kantor berkonsep green office sejak tahun 2006. Hal yang dilakukan pegawainya adalah menggunakan kertas, amplop, dan map bekas untuk kepentingan internal kantor.
Sementara itu, untuk kebutuhan resmi, British Council menggunakan kertas daur ulang. "Kami juga men-set komputer pada posisi hibernate yang dapat menghemat energi. Kertas bekas yang sudah tidak terpakai kami berikan ke partner sehingga dapat didaur ulang," ujar Rosi, pegawai BC, Kamis (18/2/2010).
"Green office bukan hanya soal teknologi maupun hal yang berkaitan dengan teknik tetapi lebih pada perubahan perilaku dan cara berpikir," kata Kepala Dewan Gedung Hijau di Indonesia, Naning S Adiningsih Adiwoso.
China National Offshore Oil Corporation, perusahaan penambang minyak asal Cina ini mewujudkan green office dengan menata kubikel di dekat jendela sehingga dapat memaksimalkan sinar matahari sebagai penerangan.
CNOOC juga telah memberikan kertas bekasnya kepada supplier untuk kemudian diubah menjadi tissue.
Perusahaan di bidang properti, Jones Lang LaSalle mengaku belum banyak dengan pencapaian di Indonesia. Yang telah dilakukan adalah penyampaian kesadaran pentingnya penghematan energi melalui poster yang ditempel di dinding kantor.
Terakhir, Procon mulai membiasakan diri melakukan presentasi tanpa membagi-bagikan versi hardcopy demi penyelamatan lingkungan. "Ketika presentasi, kami bawa USB. Lalu, USB dicolokkan ke laptop klien, copi file, dan USB kami ambil kembali," ujar seorang pegawai Procon. (KOMPAS.COM)