KOMPAS/DHONI SETIAWAN
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
Kamis, 11 Maret 2010 | 20:34 WIB
TRIBUN MANADO, JAKARTA - Pemerintah menegaskan tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak atau BBM pada tahun 2010 sepanjang seluruh asumsi ekonomi makro yang ditetaplam dalam APBN Perubahan 2010 tidak berubah.
Dengan demikian, masyarakat tidak perlu khawatir karena pemerintah akan berupaya agar APBN tetap dalam kondisi sehat dan dikelola secara sangat hati-hati.
Demikian penegasan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Kamis (11/3/2010) saat bertemu dengan editor dari berbagai media massa dan analis dari berbagai lembaga keuangan domestik.
Asumsi ekonomi makro yang menjadi bahan perhitungan pemerintah dalam menetapkan kenaikan harga BBM adalah harga jual minyak mentah Indonesia (ICP), nilai tukar rupiah, dan realisasi konsumsi BBM. Dalam Rancangan APBN Perubahan 2010, pemerintah menargetkan ICP pada level 77 dollar AS per barrel atau naik dari rencana awal 65 dollar AS per barrel.
Adapun nilai tukar rupiah diubah dari rencana awal Rp 10.000 per dollar AS menjadi Rp 9.500 per dollar AS. Sementara konsumsi BBM dialokasikan pada level 36 juta kiloliter.
"Sepanjang semua asumsi itu berjalan, maka BBM tidak akan naik. Jadi masyarakat harap tetap tenang dan saya akan mengelola APBN secara prudent (hati-hati)," ungkap Sri Mulyani.
Dalam Nota Keuangan dan APBN 2010 disebutkan, Jika rata-rata harga jual minyak mentah Indonesia atau ICP lebih tinggi 1 dollar AS per barrel dari angka yang diasumsikan, maka tambahan defisit pada APBN 2010 diperkirakan akan berada pada kisaran Rp 0 triliun hingga Rp 0,1 triliun.
Dengan demikian, jika ICP bertahan pada level 85 dollar AS per barrel sepanjang tahun 2010, maka defisit APBN 2010 akan melonjak sekitar Rp 1,5 triliun, karena ada lonjakan 10 dollar AS per barrel di atas asumsi awal, 65 dollar AS per barrel.
Adapun, jika nilai tukar rupiah rata-rata per tahun terdepresiasi sebesar Rp 100 per dollar AS dari angka yang diasumsikan, akan menambah defisit pada APBN 2010 Rp 0,38 triliun hingga Rp 0,42 triliun. Pemerintah mengusulkan nilai tukar lebih kuat dari Rp 10.000 per dollar AS menjadi Rp 9.500 per dollar AS, sehingga ada deviasi Rp 500 per dollar. Itu akan mengurangi defisit sekitar Rp 1,9 triliun hingga Rp 2,1 triliun.
Sementara, peningkatan konsumsi BBM domestik sebesar 0,5 juta kiloliter berpotensi menambah defisit APBN 2010 pada kisaran Rp 1,33 hingga Rp 1,46 triliun.(kompas.com)