Manca negara
Tiga Kecelakaan Renggut 244 Jiwa Manusia
AP
Ethiopian Airlines
Selasa, 26 Januari 2010 | 02:55 WIB

PESAWAT milik maskapai penerbangan Ethiopian Airlines pernah mengalami dua kecelakaan hebat. Kedua kecelakaan itu merenggut 154 jiwa dan 125 orang terluka.

Ditambah kecelakaan pada Senin (25/1/2010) pagi di Lebanon, kecelakaan pesawat milik maskapai terbaik di Benua Afrika itu telah menewaskan 244 jiwa manusia.

Kecelakaan pertama pada 15 September 1988. Pesawat Boeing 737-200 ET-AJA, nomor penerbangan 604 milik Ethiopian Airlines kembali ke landasan (return to base), mendarat darurat, sesaat setelah lepas landas dari Bandara Bahir Dar, Ethiopia. 

Pesawat tersebut menabrak sekawanan burung merpati. Burung masuk ke satu mesinnya sehingga kehilangan daya dorong. Pendaratan keras (crash landing) mengakibatkan 31 orang tewas dari total 105 penumpang.
 
Delapan tahun kemudian, tepatnya pada 23 November 1996. Kali ini menimpa pesawat milik Ethiopian Airlines lainnya, Boeing B767-260ER ET-AIZ nomor penerbangan 961.  Pesawat rute Addis Ababa-Nairobi, itu dikuasai tiga pembajak, terpaksa mendarat darurat di Kepulauan Le Galawa, Moroni, Komoro.

Pesawat tersebut kehabisan bakar bakar lantaran tiga pembajak memaksa pilot untuk terbang ke Australia. Apalagi pesawat sudah terbang jauh, dari Adis Ababa ke Nairobi, Brazzaville, Lagos hingga Abidjan. Penerbangan ke selatan sepanjang pantai Afrika, kemudian pengendali dari Nairobi menyarankan mereka untuk mendarat di Mombasa.

Pendaratan keras tersebut mengakibatkan  123 penumpang tewas dan 52 lainnya luka-luka.  Peristiwa 14 tahun silam itu terkenal dengan "Penerbangan  961".


Kecelakaan ketiga terjadi pada 25 Januari 2010. Boeing 737-800 ET-ANB, Penerbangan 409 milik Ethiopian Airlines, jatuh setelah lepas landas dari Bandar Udara Internasional Rafic Hariri, Beirut menuju Bandara Internasional Bole di Addis Ababa, Ethiopia. Pesawat membawa 83 penumpang dan tujuh awak. Hingga Selasa (26/1/2010) dinihari, tim SAR baru menemukan 34 jenazah.

Kecelakaan diduga karena cuaca buruk lantaran pilot memaksa terbang dalam kondisi cuaca buruk. Ketika itu, Lebanon tengah dilanda hujan deras disertai petir dan guntur.

Namun, Sejumlah analis menyangsikan cuaca sebagai biang keladi. Mereka menduga ada sesuatu benda masuk mesin pesawat, sebagaimana kecelakaan sebelumnya. Alasannya, pesawat Boeing 737 telah dirancang sedemikian rupa sehingga mampu terbang dalam kondisi cuaca paling buruk sekalipun. (eddy mesakh/berbagai sumber)

komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
© 2010 Tribun Manado. All rights reserved