Citizen Journalism
Kamera Saya Kembali
dok pribadi
Penulis di tepi Sungai Thames, London, Inggris.
Sabtu, 6 Februari 2010 | 00:30 WIB

CITIZEN JOURNALISM
Laporan Ammik Kisriyani dari Birmingham, Inggris

SEBUAH pengalaman menarik saya alami sewaktu saya dan teman-teman Indonesia jalan-jalan di Kota London dua minggu lalu, Sabtu 23 Januari 2010. Ini pertemuan perdana setelah kurang lebih enam bulan kuliah di Inggris (England).

Seperti biasa, sebagaimana para pendatang umumnya, kami mengabadikan gambar-gambar pertemuan kami sepanjang perjalanan di sekitar Kota London. Tetapi, rasa senang itu berubah jadi panik, sewaktu makan siang di sebuah restoran. Saya kaget karena tidak bisa menemukan kamera yang akan saya gunakan untuk mengabadikan kebahagiaan salah satu teman yang kebetulan sedang berulang tahun.

Kamera saku itu baru dipakai mengambil gambar sekali di tube (kereta bawah tanah) Warren Street. Jadi ada beberapa kemungkinan,  kamera tertinggal atau terjatuh di tube. Kemungkinan untuk mencari menjadi sangat tipis mengingat armada tube sangat banyak dan melewati banyak stasuin di seputaran London.

Hal yang paling bisa kami lakukan adalah melapor ke petugas di stasiun tube. Petugas saat itu hanya memberikan alamat website sentral layanan transportasi yang bisa digunakan untuk melaporkan barang yang hilang saat perjalanan di Inggris.

Benar saja, pelayanan itu memang sangat efektif, karena sistem yang ada tersentral, jadi lebih mudah melacak barang yang hilang di manapun tempat kejadiannya. Yang saya lakukan saat itu adalah membuka alamat website yang diberikan petugas, memasukkan identitas pribadi, ciri-ciri barang yang hilang, tempat kejadian, dan beberapa informasi yang diperlukan.

Setelah mengirimkan data yang ada, selanjutnya ada e-mail balasan dari petugas admin website layanan transportasi tersebut yang mengatakan untuk menunggu proses paling lama 21 hari dan akan ada charge service untuk barang yang berhasil ditemukan. 11 Hari kemudian, layanan transportasi sudah mengirim e-mail yang mengatakan ada barang yang mirip dengan ciri-ciri yang saya laporkan dulu.

Setelah menghubungi lewat telepon untuk mengkonfirmasi, ada dua pilihan yang mereka tawarkan untuk mengambil kamera saku saya, diambil langsung di London, atau dikirim lewat jasa kurir. Karena tidak memungkinkan untuk kembali lagi ke London, akhirnya saya memutuskan untuk mengirimkannya lewat jasa kurir ke Birmingham, kota tempat saya tinggal, dengan biaya tambahan kurir. Saya sungguh sangat terbantu dengan sistem layanan yang ada.

Seandainya kamera saya tertinggal di stasiun atau kereta di Indonesia, tentu ceritanya akan jauh berbeda. Sulit sekali rasanya bila barang kita tertinggal di sebuah kota yang jauh dari tempat tinggal kita. Hanya saja untungnya ada saudara yang tinggal di kota dimana barang saya tertinggal, jadi bisa membantu mengurusnya.

Apabila ada sistem layanan tersentral di Indonesia, tentunya apabila terjadi hal-hal yang tidak pernah kita inginan itu akan lebih mudah mengurusnya, tanpa harus repot-repot mencari langsung di tempat kejadian. Karena dalam perjalanan, barang bisa hilang dimana saja dan kita tidak pernah tahu apakah tempat kejadian itu bisa kita jangkau lagi atau tidak.

Sistem layanan telepon, website atau e-mail yang tersentral memang sangat diperlukan dewasa ini. Suatu hal yang sebenarnya juga bisa dilakukan di negara kita sebagai alternatif layanan publik yang efisien, mengingat jaringan internet sudah menjadi hal yang biasa di masyarakat.

Saya beruntung, masih bisa menggunakan kamera saya untuk mengabadikan hidup saya di negeri orang.(*)

*) Ammik Kisriyani, Postgraduate student in University of Birmingham, UK, Ford Fellow 2009/2010

komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
© 2010 Tribun Manado. All rights reserved